Tampilkan postingan dengan label efisiensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label efisiensi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

Pengembangan Energi Alternatif Tak Dapat Anggaran

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, pemerintah tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan energi alternatif di masa mendatang. Sebab, anggaran tersebut sudah diserahkan ke tiap-tiap kementerian atau lembaga. "Kalau anggaran secara khusus, itu tidak ada," kata Chatib saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/6/2013). Menurut Chatib, untuk anggaran infrastruktur dalam pengembangan energi alternatif, pemerintah memang menyerahkan ke tiap-tiap kementerian atau lembaga. 

Untuk pengembangan energi alternatif sendiri, Chatib menilai hal tersebut merupakan wewenang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Untuk alokasi anggaran infrastruktur pengembangan energi alternatif tidak ada secara spesifik di APBN Perubahan 2013. Tapi ada di belanja Kementerian atau Lembaga, khususnya di ESDM," tambahnya. 

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menambahkan, pemerintah masih menargetkan produksi (lifting) minyak bisa meningkat di tahun depan. Dalam RAPBNP 2013 yang telah disetujui, pemerintah sudah menargetkan lifting minyak 840.000 barrel minyak per hari. 

"Tapi ke depan, kami akan menargetkan lifting minyak 890.000-900.000 barrel minyak per hari hingga 1 juta barrel minyak per hari. Tapi itu tidak mudah. Itu pun kalau ada cadangan minyak yang besar," kata Anny. 

Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah dan Kementerian ESDM telah berkoordinasi soal anggaran pengembangan energi alternatif tersebut. Namun, pengembangannya lebih ke pembangkit listrik panas bumi dan pembangkit listrik tenaga surya. 

"Untuk anggaran subsidi listrik di tahun ini saja sudah Rp 100 triliun. Kita tidak bisa memberi lebih banyak lagi (subsidinya), apalagi bila pengembangan energi terbarukan tersebut tidak bisa memberikan harga listrik lebih murah dari 7-8 sen/kwh," tambahnya. 

Selama ini, harga listrik dari PLN selalu di atas 10 sen/kwh. Oleh karena itu, bila belum ada pengembangan energi listrik terbarukan yang mampu memberikan harga lebih rendah dari itu, maka pemerintah tidak akan memberikan anggaran subsidinya. (DK)

Senin, 11 Maret 2013

Marine Solar Cells


Intisari-Ada dua kelemahan yang bisa kita temui pada sebagian besar sistem energi surya di pasaran saat: perlu lahan luas serta biaya pembuatan dan pemeliharaan yang tinggi. Untuk mengatasi hal itu, saat ini sedang dikembangkan sebuah pembangkit listrik tenaga surya yang mengambang. Panel tidak diletakkan di daratan tapi mengambang di air.

Tak bisa dipungkiri bahwa energi surya memiliki peran yang dominan dalam membendung efek gas rumah kaca. Energi ini dianggap bersih dan merupakan sumber listrik yang efisien. Pengembangan yang ada saat ini bertujuan untuk mengatasi dua kendalai tadi.

Seperti dikutip sciencedaily.com, kerja sama antara Prancis dan Israel ini sudah pada tahap rancang bangun. Diharapkan September 2011 sudah bisa diimplementasikan di lapangan. Sebagai lokasi akan dipilih di Cadarache, tenggara Prancis. Tempat ini memiliki tempat istimewa dalam sistem perlistrikan Prancis dan dekat dengan fasilitas PLTA yang menyediakan permukaan air untuk pemasanan sistem. Direncanakan akan beroperasi selama sembilan bulan untuk menguji kinerja sistem dan produktivitasnya pada perubahan musim dan tingkat kedalaman air. Juni 2012 diharapkan sudah terkumpul semua informasi yang diperlukan teknologi ini untuk dilepas ke pasaran.

Jika perusahaan fotovoltaik berjuang mencari lahan untuk menaruh pabrik listrik sel suryanya, tim proyek mengidentifikasi potensi tak tersentuh untuk pemasangan instalasi sel surya di air. Cekungan air yang digunakan tentu saja bukan bagian dari taman nasional, resort wisata, atau lautan terbuka. Justru cekungan air industri yang dipilih, yang sudah digunakan untuk tujuan lain. Jadi, tidak ada pengaruh negatif pada lahan alam. Sebuah solusi yang sama-sama menguntungkan.

Setelah menyelesaikan persoalan mengenai tempat, masalah lain adalah biaya. Memang, biaya yang dipakai terdengar 'wow', namun untuk jangka panjang hal itu masuk akal. Pengembang dapat mengurangi ongkos berkaitan dengan implementasi teknologi dalam dua hal. Pertama mengurangi jumlah sel surya yang digunakan. Ini berkat teknologi sel surya terbaru yang berbasiskan cermin. Meski sel berkurang, namun listrik yang dihasilkan tetap.

Kedua, digunakannya sistem pendinginan air karena panel terendam air. Karena sistem pendinginan yang sederhana ini sehingga sistem fotovoltaik bisa menggunakan sel surya silikon, yang memiliki masalah soal overheating dan perlu didinginkan agar sistem bekerja dengan benar. Ini berbeda dengan sistem standar yang lebih mahal. Jenis silikon juga memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis standar.

Masih dalam rangka membuat teknologi ini efisien dan siap dilempar ke pasar, sistem dirancang menggunakan sistem modul mengikuti keinginan pengguna. Setiap modul menghasilkan sekitar 200 kW listrik. Jika ingin tambah tinggal memasang modul tambahan.

Masalah lingkungan juga diperhatikan. Kenyataan bahwa oksigen akan diserap oleh sistem sehingga masuk ke dalam air akan menjaga kecukupan oksigen bagi kehidupan bawah air. Pemilihan material pun mengacu ke seberapa besar dampaknya ke lingkungan bawah air. (Agus)