Tampilkan postingan dengan label PLTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLTS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

100.000 Unit Panel Surya untuk masyarakat Indonesia

EBTKE-- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) akan memberikan 100.000 unit panel surya (solar home system/SHS) kepada 400.000 rumah tangga di daerah yang belum teraliri listrik.
Direktur Jenderal EBTKE Rida Mulyana mengatakan pembagian tersebut direncanakan menggunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai tahun ini dan kemudian dilanjutkan tahun depan.
"Tahun ini kita akan memulai nya dan dilanjutkan tahun depan mudah- mudahan nantinya bisa seluruh desa karena masih 2500 desa yang belum terlistriki,"kata dia saat membuka Acara Sosialisasi Program Pengampunan Pajak (tax amnesti) Wajib Pajak Pada Subsektor EBTKE di Jakarta, Rabu, 18 Januari 2017.
Rida menjelaskan, nantinya panel surya itu akan dialiri listrik ke empat unit lampu LED dengan kapasitas masing - masing 3 watt kemudian disediakan colokan USB agar bisa digunakan mengisi baterai hp, mendengarkan radi. "Tugas kita untuk membagikan kebahagian,"tegasnya.
Lebih jauh Rida memaparkan capaian kerja yang diperoleh unit yang dipimpinnya selama kurun waktu 2016, antara lain untuk panas bumi mencapai kapasitas tambahan 205 megawatt (MW), angka ini tertinggi sejak berdirinya Ditjen EBTKE. "Lalu prosentas pencampuran biodiesel/BBN 20 persen, ini tertinggi di dunia,"tambahnya.
Capaian lain, lanjut Rida, pemanfaatan biodiesel dalam negeri mencapai 2,74 kiloliter (KL), adapun realiasi pemanfaatan APBN-P 2016 juga mencapai angka tertinggi yaitu 95,75 persen. "Sedangkan untuk intensitas energi terus mengalami tren penurunan selama 3 tahun terakhir, yaitu hanya 440 SBM/miliar rupiah. Ini bagus artinya kita semakin hemat,"ungkapnya.
Disamping itu, menurut dia, pihaknya juga berhasil menerbitkan 8 regulasi selama kurun waktu 2016 dengan rincian 1 peraturan pemerintah dan 7 peraturan menteri (Permen) ESDM, pembangunan pembangkit listrik dari APBN lebih dari 16.729 kilowatt (kW) dengan berbasis energi baru terbarukan antara lain 102 unit PLTS sebesar 6.615 kW, 17 unit PLTMH dengan kapasitas 1.114, 5 unit PLT Bioenergi sebesar 9000 kw. "Terakhir realiasasi PNBP dari sektor panas bumi juga mencapai angka tertinggi yaitu US$0,907 triliun,"pungkas Rida.

Selasa, 02 Juli 2013

PLN Diwajibkan Membeli Kelebihan Tenaga Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) diwajibkan membeli kelebihan tenaga listrik dari badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, koperasi dan swadaya masyarakat. Hal ini untuk memperkuat sistem penyediaan tenaga listrik setempat.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2012 tentang Harga Pembelian Listrik Oleh PT PLN yang menggunakan Energi Baru Terbarukan Skala Kecil Dan Menengah Atau Kelebihan Tenaga Listrik, sebagaimana dilansir dalam situs Kementerian ESDM, Jumat (10/2/2012), di Jakarta.

Peraturan itu diharapkan dapat menata kembali pengaturan pembelian kelebihan tenaga listrik dari badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat oleh PLN.

Untuk pembelian kelebihan tenaga listrik, dapat lebih besar dari tenaga listrik yang dipakai sendiri dan sesuai kondisi sistem ketenagalistrikan setempat.

Harga pembelian tenaga listrik ditetapkan Rp 656 per kWh jika terinterkoneksi pada Tegangan Menengah, dan Rp 1.004 per kWh, jika terinterkoneksi pada tegangan rendah.

Pemerintah juga memberi insentif sesuai lokasi pembelian tenaga listrik oleh PT PLN. Sebagai contoh, untuk wilayah Maluku dan Papua, harga pembelian tenaga listrik ditetapkan 1,5 kali dari harga yang ditetapkan pemerintah tersebut.

Sementara harga pembelian tenaga listrik dalam kontrak jual beli tenaga listrik dari kelebihan tenaga listrik tanpa negosiasi harga dan persetujuan harga dari Menteri ESDM, Gubernur atau Bupati dan Walikota sesuai kewenangannya.

Jika terjadi kondisi krisis penyediaan tenaga listrik, PLN dapat membeli kelebihan tenaga listrik (excess power) dengan harga lebih tinggi dari harga dalam Permen ESDM No 4 Tahun 2012 ini. Perhitungan harga didasarkan pada Harga Perkiraan Sendiri PLN. (RA)

Senin, 01 Juli 2013

20% Rumah di Jawa dan Bali Belum Teraliri Listrik

Jakarta - PT PLN (Persero) mengklaim hingga saat ini telah mengaliri listrik ke hampir 80% dari total rumah di Pulau Jawa dan Bali. PLN masih menyisakan 20%, namun masih terkendala infrastruktur.

Direktur Pengadaan Strategis dan Energi Primer PT PLN Bagyo Riawan mengatakan PLN siap dan mampu untuk mengaliri listrik ke semua daerah di Indonesia, namun persoalannya adalah jalan akses dan lokasi rumah yang sulit untuk mendistribusikan listrik.

"Pengembangan kelistrikan sangat tergantung infrastruktur yang lain. Infrastruktur jalan, bukan karena PLN-nya. Yang jalannya nggak ada, kalau jalannya nggak ada ngangkut materialnya susah," kata Bagyo kepadadetikFinance, Senin (1/7/2013).

Bagyo mengatakan, perseroan terus berusaha untuk melayani semua lapisan agar teraliri listrik. Hingga saat ini, PLN baru mengaliri listrik ke hampir 80% total rumah di Jawa dan Bali. "20% lagi lah, kira-kira baru 78%," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Susanto Purnomo, menurutnya PLN tidak mengalami permasalahan di hulu atau produksi listrik, namun kendala justru terjadi di hilir khususnya upaya distribusi listrik ke daerah-daerah terpencil. Perseroan menargetkan akan mengaliri listrik 100% seluruh Indonesia pada bertepatan dengan ulang tahun PLN yang ke-75 atau tahun 2021.

"Kita targetkan 100% itu ulang tahun PLN yang ke-75. Hitung saja dari tahun 1946," katanya. (DF)

Kamis, 20 Juni 2013

Pengembangan Energi Alternatif Tak Dapat Anggaran

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, pemerintah tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan energi alternatif di masa mendatang. Sebab, anggaran tersebut sudah diserahkan ke tiap-tiap kementerian atau lembaga. "Kalau anggaran secara khusus, itu tidak ada," kata Chatib saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/6/2013). Menurut Chatib, untuk anggaran infrastruktur dalam pengembangan energi alternatif, pemerintah memang menyerahkan ke tiap-tiap kementerian atau lembaga. 

Untuk pengembangan energi alternatif sendiri, Chatib menilai hal tersebut merupakan wewenang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Untuk alokasi anggaran infrastruktur pengembangan energi alternatif tidak ada secara spesifik di APBN Perubahan 2013. Tapi ada di belanja Kementerian atau Lembaga, khususnya di ESDM," tambahnya. 

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menambahkan, pemerintah masih menargetkan produksi (lifting) minyak bisa meningkat di tahun depan. Dalam RAPBNP 2013 yang telah disetujui, pemerintah sudah menargetkan lifting minyak 840.000 barrel minyak per hari. 

"Tapi ke depan, kami akan menargetkan lifting minyak 890.000-900.000 barrel minyak per hari hingga 1 juta barrel minyak per hari. Tapi itu tidak mudah. Itu pun kalau ada cadangan minyak yang besar," kata Anny. 

Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah dan Kementerian ESDM telah berkoordinasi soal anggaran pengembangan energi alternatif tersebut. Namun, pengembangannya lebih ke pembangkit listrik panas bumi dan pembangkit listrik tenaga surya. 

"Untuk anggaran subsidi listrik di tahun ini saja sudah Rp 100 triliun. Kita tidak bisa memberi lebih banyak lagi (subsidinya), apalagi bila pengembangan energi terbarukan tersebut tidak bisa memberikan harga listrik lebih murah dari 7-8 sen/kwh," tambahnya. 

Selama ini, harga listrik dari PLN selalu di atas 10 sen/kwh. Oleh karena itu, bila belum ada pengembangan energi listrik terbarukan yang mampu memberikan harga lebih rendah dari itu, maka pemerintah tidak akan memberikan anggaran subsidinya. (DK)

Sabtu, 15 Juni 2013

PLTS Terbesar Eropa ada di Italia

MILAN, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) paling kuat di Eropa ditetapkan mulai beroperasi di Italia akhir tahun ini. Adalah perusahaan AS yang membangun instalasi di sebuah area seluas 120 lapangan sepak bola mengatakan, Kamis (11/3/2010). 
    
Pembangkit listrik di Rovigo di dekat Venice di timur laut Italia akan mengambil 850.000 meter persegi (9,15 juta kaki persegi) dan menghasilkan 72 megawatt, SunEdison mengatakan dalam sebuah pernyataan pengumuman memulai konstruksi. 
    
Saat ini pembangkit listrik terbesar di Eropa, berlokasi di Spanyol menghasilkan 60 megawatt dan terbesar kedua di Jerman 50 megawatt, kata SunEdison. 
    
"Taman fotovoltaik di Provinsi Rovigo merupakan tonggak penting dalam pembangunan dan pembentukan energi matahari di Italia," manajer umum SunEdison Italia, Francesco Liborio Nanni, mengatakan dalam sebuah pernyataan. 
    
Total investasi akan berada di antara 200 juta  hingga 250 juta euro (273 juta hingga 342 juta dollar AS), kata perusahaan itu. 
    
Produksi energi akan dimulai pada paruh kedua 2010 dan pembangkit listrik akan sepenuhnya beroperasi pada akhir tahun, kata SunEdison, yang bekerja pada proyek dalam hubungannya dengan raksasa perbankan Spanyol Santander. 
    
Selama tahun pertama operasi, pembangkit listrik akan menutupi kebutuhan listrik dari 17.000 rumah tangga dan akan mencegah emisi 41.000 ton karbon dioksida ke atmosfer. 
    
SunEdison, sebuah anak perusahaan dari perusahaan AS MEMC Electronic Materials, adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga surya terkemuka di Amerika Serikat dan terbesar ketiga di dunia. 
    
Italia berada di urutan kedua setelah Jerman untuk produksi listrik tenaga surya di Eropa. (KM)

Pemerintah gelar tender EPC untuk PLTS bulan Juni

Kontan.co.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menggenjot proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di seluruh daerah. Dalam waktu dekat, pemerintah kembali menggelar tender engineering, procurement, and construction (EPC) pembangkit dengan total kapasitas sekitar 5 megawatt (MW).


Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM mengatakan, tender kontruksi bakal digelar bulan depan. "Sekarang ini, kami tengah menggelar koordinasi dengan kementerian terkait untuk memetakan wilayah mana saja yang akan kami bangun PLTS," kata dia, Senin (18/3).

Total pendanaan untuk pengembangan PLTS tidak jauh berbeda dengan alokasi anggaran tahun lalu, yakni sekitar Rp 579,6 miliar. Rida bilang, untuk pembangunan PLTS tahun ini, pihaknya akan mengutamakan pembangunan di 92 pulau terluar.

Di lain sisi, Rida mengatakan, pemerintah berharap perusahaan swasta juga mengembangkan PLTS melalui skema independent power producer (IPP). Sebab, pemerintah telah menetapkan  feed in tarif PLTS sebesar US$ 25 sen per kilowatt hour (kWh) untuk menarik minat investor. "Ini harga tertinggi penjualan listrik ke PLN," ujar dia.

Sekarang ini, pemerintah sedang menyusun wilayah mana saja yang ditawarkan ke investor untuk proyek PLTS. Menurut Rida, pemerintah akan menetapkan kuota besaran kapasitas terpasang PLTS yang dapat dibangun oleh investor swasta.

Tujuan utama menggenjot pembangunan PLTS tersebut adalah menggantikan fungsi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang masih beroperasi di daerah-daerah terpencil. Sekarang ini, porsi PLTD dalam sebaran listrik nasional masih 12,7% dan PLTS baru 0,003% dari total kapasitas listrik di Tanah Air sebesar 44.124 MW.

Seperti diketahui, tahun lalu, pemerintah telah menggelar sekitar 40 lelang konstruksi, mulai Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua Barat. "Total kapasitas listrik yang telah dibangun tahun lalu sekitar 4,5 MW. Yang terbesar di Bangli dan Karang Asem, Bali, berkapasitas masing-masing 1 MW," ujar dia.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2012, dari seluruh lelang konstruksi PLTS, 23 tender sudah ditetapkan pemenangnya. Misalnya, PT Citrakaton Dwitama ditetapkan sebagai kontraktor pembangunan PLTS terpusat di Riau dengan nilai tender Rp 14,2 miliar dan PT Surya Energi Indotama akan membangun PLTS terpusat di Papua Barat senilai Rp 22,3 miliar.

Khusus PLTS yang memiliki jaringan interkoneksi, PT Surya Energi Indotama juga ditetapkan untuk membangun PLTS senilai Rp 33,2 miliar dengan interkoneksi PLTS di Bali I. Ada juga PT Azet Surya Lestari untuk PLTS di wilayah Nusa Tenggara Barat senilai Rp 34,5 miliar.

Meskipun sebagian wilayah sudah ada pemenang tender konstruksi, namun terdapat 17 proyek yang belum ditetapkan pemenangnya. (KN)

Berikut pemenang tender EPC untuk PLTS untuk tahun 2012 :
Lokasi Nilai (Rp Miliar)Pemenang 
Jateng, DIY, Jatim19,7PT Surya Energi Indotama
DKI, Banten, Jabar14,5PT Tritama Mitra Lestari
Bengkulu11,6PT Spektrum Krisindo Elektrika
Riau 14,2PT Citrakaton Dwitama
Jambi10,1PT Tritama Mitra Lestari
Sumatera Barat12,9PT Gerbang Multindo Nusantara
Bangka Belitung12,7PT Tritama Mitra Lestari
Kalimantan Tengah 15,4PT Surya Energi Indotama
Kalimantan Barat10,2PT Indo Electric Instruments
Bali 15,2PT Indo Electric Instruments
Nusa Tenggara Barat13,3PT Indo Electric Instruments
Nusa Tenggara Timur 13,1PT Tritama Mitra Lestari
Gorontalo9,6PT Pentas Menara Komindo
Sulawesi Tengah9,4PT Citrakaton Dwidayalestari 
Sulawesi Barat 12PT Pentas Menara Komindo
Sulawesi Tenggara18,3PT Surya Energi Indotama
Maluku Utara11,2PT Hilmanindo Signintama
Maluku16,6PT Bayu Danar Mutiara
Papua Barat22,3PT Surya Energi Indotama
Papua 20PT Fokus Indo Lighting
*Bali I33,2PT Surya Energi Indotama
*Bali II33,2PT Surya Energi Indotama
*Nusa Tenggara Barat34,5PT Azet Surya Lestari

Belum ditetapkan pemenang tender EPC untuk PLTS untuk tahun 2012:
Lokasi Nilai (Rp milliar)
Aceh 13,2
Sumatera Utara 15,6
Sumatera Utara (tahap 2) 5,2
Kepulauan Riau 14,5
Bengkulu dan Babel (tahap 2) 7,4
Sumatera Barat (tahap 2) 7,2
Sumatera Selatan (tahap 2) 15
Lampung 18,4
Lampung (tahap 2) 9,6
Jabar, Jateng, dan Jatim (tahap 2)14,7
Bali, NTB, dan NTT (tahap 2)13
Kalimantan Selatan 17,9
Kalimantan Timur 12,8
Kalbar dan Kalteng (tahap 2)4,8
Sulawesi Utara  9,7
Sulawesi Selatan 9,7
SulSel dan Sul Tenggara (tahap 2)7,8

Jumat, 14 Juni 2013

China Investasi PLTS dan Smelter - INILAH.com

INILAH.COM, Jakarta - Selain membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), China juga akan melakukan investasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan pengolahan, pemurnian (smelter).

"China Power Investment (CPI) mengincar juga investasi dibidang PLTA, PLTS, dan Smelter," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik di Jakarta, Senin (27/5/2013).

Wacik menjelaskan, selama ini China telah mempelajari permasalahan Indonesia soal penghentian ekspor barang mentah minerba dengan pembangunan smelter. Karena itu, CPI merasakan ketertarikanya untuk membangun smelternya di Indonesia. Apalagi bisnis smelter akan berkembang pesat ke depannya.

Selain itu, CPI juga berencana akan mengembangkan PLTS di wilayah Indonesia timur yang memiliki rasio elektrifikasi yang rendah. Dengan demikian aksi pembangunan PLTS tersebut dapat memenuhi kebutuhan di sektor kelistrikan masyarakat Indonesia.

"CPI juga harus memberikan Corporate Social Responsibility (CSR) d imanapun mereka melakukan investasi, dan mereka juga harus membuka lapangan kerja di sini bukan membawa warganya," katanya. [hid/inilah.com]

Kamis, 14 Maret 2013

Graphene Sebagai Pengganti Silicon Untuk Panel Surya


Para peneliti telah menunjukkan bahwa graphene sangat efisien dalam menghasilkan elektron untuk menyerap cahaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan ini dapat digunakan untuk membuat sel surya yang lebih efisien.

Bahan konvensional yang mengubah cahaya menjadi listrik, seperti arsenide silikon dan galium, menghasilkan elektron tunggal untuk menyerap setiap foton. Sekarang, penelitian baru mengungkapkan bahwa ketika graphene menyerap foton, bahan ini akan dapat menghasilkan beberapa elektron. Ini berarti bahwa graphene dapat mengkonversi cahaya menjadi listrik lebih efisien daripada bahan konvensional yang digunakan saat ini.

Graphene sebagai alternatif sel surya
Penelitian yang dilakukan para ahli telah menunjukkan bahwa graphene memiliki potensi yang luar biasa. Peneliti di Hitachi Cambridge Laboratory, menunjukkan bahwa beberapa waktu kedepan, penggunaan Graphene akan melingkupi banyak produk-produk yang dapat menghasilkan energi alternatif.

Graphene bisa dianggap sebagai kandidat untuk digunakan pada generasi ketiga sel surya. Istilah generasi ketiga ini mengacu pada pengembangan teknologi yang akan mengatasi batasan-batasan fisik sel surya konvensional, sehingga mampu mencapai efisiensi yang jauh lebih tinggi. Sel silikon saat ini memiliki batasan efisiensi sekitar 30 persen, namun sel surya terbuat dari graphene mungkin memiliki batasan lebih dari 60 persen.


Selasa, 12 Maret 2013

Efek fotovoltaik: Edmond Becquerel

Lahir di Paris, Edmond Becquerel (1820-1891), seorang ahli fisika Perancis pada tahun 1839, dikenal karena studinya dalam magnet listrik, spektrum matahari, dan optik. 

Ia terkenal untuk penemuan dan mengungkap prinsip kunci untuk sel energi surya, efek fotovoltaik. Ia menerima gelar doktor dari Universitas Paris, dan akhirnya menerima posisi profesor di Institut agronomi dari Versailles. 

Dia tertarik pada pendar dan luminescence, khususnya reaksi kimia yang disebabkan oleh eksploitasi zat tertentu terhadap cahaya. Pada Tahun 1840an ia menemukan bahwa reaksi ini bisa menghasilkan arus listrik di kedua cairan dan logam. Hubungan antara energi cahaya dan energi kimia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan di tahun-tahun berikutnya dan penelitian telah menyebabkan perkembangan sel fotovoltaik. 

Efek fotovoltaik adalah proses fisik dasar dimana sel fotovoltaik mengubah sinar matahari menjadi listrik. Sinar matahari terdiri dari foton yang terdapat dalam energi surya. Foton ini mengandung jumlah energi yang berbeda, sesuai dengan panjang gelombang dari spektrum matahari. 

Ketika foton tertangkap oleh luasan panel surya, maka foton yang mengenai sel fotovoltaik dapat diserap, sedangkan yang tidak, hanya menembus luasan panel surya. Foton yang diserap itulah yang dapat menghasilkan listrik. (David)

Senin, 11 Maret 2013

Marine Solar Cells


Intisari-Ada dua kelemahan yang bisa kita temui pada sebagian besar sistem energi surya di pasaran saat: perlu lahan luas serta biaya pembuatan dan pemeliharaan yang tinggi. Untuk mengatasi hal itu, saat ini sedang dikembangkan sebuah pembangkit listrik tenaga surya yang mengambang. Panel tidak diletakkan di daratan tapi mengambang di air.

Tak bisa dipungkiri bahwa energi surya memiliki peran yang dominan dalam membendung efek gas rumah kaca. Energi ini dianggap bersih dan merupakan sumber listrik yang efisien. Pengembangan yang ada saat ini bertujuan untuk mengatasi dua kendalai tadi.

Seperti dikutip sciencedaily.com, kerja sama antara Prancis dan Israel ini sudah pada tahap rancang bangun. Diharapkan September 2011 sudah bisa diimplementasikan di lapangan. Sebagai lokasi akan dipilih di Cadarache, tenggara Prancis. Tempat ini memiliki tempat istimewa dalam sistem perlistrikan Prancis dan dekat dengan fasilitas PLTA yang menyediakan permukaan air untuk pemasanan sistem. Direncanakan akan beroperasi selama sembilan bulan untuk menguji kinerja sistem dan produktivitasnya pada perubahan musim dan tingkat kedalaman air. Juni 2012 diharapkan sudah terkumpul semua informasi yang diperlukan teknologi ini untuk dilepas ke pasaran.

Jika perusahaan fotovoltaik berjuang mencari lahan untuk menaruh pabrik listrik sel suryanya, tim proyek mengidentifikasi potensi tak tersentuh untuk pemasangan instalasi sel surya di air. Cekungan air yang digunakan tentu saja bukan bagian dari taman nasional, resort wisata, atau lautan terbuka. Justru cekungan air industri yang dipilih, yang sudah digunakan untuk tujuan lain. Jadi, tidak ada pengaruh negatif pada lahan alam. Sebuah solusi yang sama-sama menguntungkan.

Setelah menyelesaikan persoalan mengenai tempat, masalah lain adalah biaya. Memang, biaya yang dipakai terdengar 'wow', namun untuk jangka panjang hal itu masuk akal. Pengembang dapat mengurangi ongkos berkaitan dengan implementasi teknologi dalam dua hal. Pertama mengurangi jumlah sel surya yang digunakan. Ini berkat teknologi sel surya terbaru yang berbasiskan cermin. Meski sel berkurang, namun listrik yang dihasilkan tetap.

Kedua, digunakannya sistem pendinginan air karena panel terendam air. Karena sistem pendinginan yang sederhana ini sehingga sistem fotovoltaik bisa menggunakan sel surya silikon, yang memiliki masalah soal overheating dan perlu didinginkan agar sistem bekerja dengan benar. Ini berbeda dengan sistem standar yang lebih mahal. Jenis silikon juga memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis standar.

Masih dalam rangka membuat teknologi ini efisien dan siap dilempar ke pasar, sistem dirancang menggunakan sistem modul mengikuti keinginan pengguna. Setiap modul menghasilkan sekitar 200 kW listrik. Jika ingin tambah tinggal memasang modul tambahan.

Masalah lingkungan juga diperhatikan. Kenyataan bahwa oksigen akan diserap oleh sistem sehingga masuk ke dalam air akan menjaga kecukupan oksigen bagi kehidupan bawah air. Pemilihan material pun mengacu ke seberapa besar dampaknya ke lingkungan bawah air. (Agus)

Jumat, 08 Maret 2013

Tarif Listrik Energi Surya Akan Diseragamkan


EBTKE-- Pemerintah akan menyeragamkan harga listrik dari pembangkit listrik tenaga surya(PLTS) yang akan ditetapkan melalui mekanisme feed in tariff.Harga listrik yang akan ditetapkan berkisar US$25 sen-US$30 sen per kilo Watt hour(kWh).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana mengatakan ditetapkan mekanisme feed in tariff bertujuan untuk  mengembangkan PLTS, terutama berdekatan dengan lokasi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di PLTD di sejumlah daerah. Pasalnya, harga listrik dari PLTD saat ini mencapai sekitar US$ 35 sen-US$ 40 sen per kWh.
"Rencana Feed in Tariff PLTS ini menurutnya akan dibahas di tingkat rapat koordinasi terbatas di Kementerian Menko Perekonomian,harga listrik dari PLTS ini nantinya diseragamkan di semua lokasi karena sulit menentukan klasifikasi bila harus dibedakan di setiap lokasi," tuturnya di Jakarta,"kata dia dalam Diskusi dengan Media Massa Nasional, di Kantor Ditjen EBTKE, Jumat, 22 Februari 2013 lalu.
Menurut dia, harga listrik dari tenaga surya itu masih direncanakan berada di kisaran US$ 25 sen-US$ 30 sen per kWh. Meski tidak akan dibedakan per lokasi seperti halnya harga listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), namun menurutnya, semakin besar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pembangkit surya tersebut, atau bahkan lebih dari 40 persen, maka harga yang akan ditetapkan menuju optimal sebesar US$ 30 sen per kWh.
"Pengembangan PLTS ini tidak akan dilakukan melalui lelang seperti halnya PLTP, namun akan dilakukan melalui pemilihan terbatas (beauty contest),"jelas Rida. Beauty contest ini sambungnya, akan ditentukan oleh tim yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan PLN.
"Nanti akan ada penugasan ke PLN untuk membeli harga listrik dari PLTS tersebut. Harga ini pun juga dibahas bersama PLN, jadi mau tidak mau, PLN harus tetap membeli dengan harga tersebut," ujarnya.
Dia mengaku, meskipun tarifnya lebih mahal dibandingkan PLTP, tapi ini tetap lebih murah dibandingkan pakai BBM, sehingga akan mengurangi biaya pokok listrik PLN. Namun demikian, lanjutnya, secara bertahap pihaknya akan mencoba memperbesar kapasitas PLTS ini, sehingga harga listrik berpotensi menjadi lebih murah dan konsumsi BBM juga semakin menurun.
"Kapasitas PLTS yang akan dikembangkan nantinya disesuaikan dengan kuota yang akan ditetapkan per tahunnya. Kuota juga bergantung pada kapasitas PLTD yang bisa diganti oleh PLTS di setiap lokasi. Kami targetkan kuotanya 100 MW per tahun," ujarnya.
Dia mengatakan, pihaknya berencana pengembangan PLTS berdekatan dengan lokasi PLTD, sehingga bisa menggantikan pemakaian PLTD pada siang hari menjadi PLTS, sehingga konsumsi BBM menjadi berkurang dan ini bisa mengurangi subsidi listrik.
Namun demikian, katanya, PLTS ini hanya digunakan pada siang hari, sementara beban listrik di malam hari masih tetap akan menggunakan PLTD. Pasalnya, PLTS yang digunakan tidak menggunakan baterai. Tidak digunakannya sistem baterai pada PLTS ini menurutnya karena investasi yang dibutuhkan bila menggunakan baterai menjadi lebih mahal hingga dua kali lipat dibandingkan tidak menggunakan baterai. Selain itu, lanjutnya, setiap tiga tahun sekali baterai juga harus diganti, sehingga biaya yang dikeluarkan juga menjadi lebih mahal. Sementara bila tanpa baterai, menurutnya pembangkit bisa bertahan hingga 20 tahun.
Dia menjelaskan, investasi yang dibutuhkan untuk membangun PLTS ini mencapai Rp 26 miliar per 1 mega watt (MW), namun itu tidak termasuk biaya pembebasan tanah. “Investasi tersebut seperti yang dianggarkan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk PLTS di Bali tahun ini,”pungkasnya.(ferial)