Tampilkan postingan dengan label sel surya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sel surya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

100.000 Unit Panel Surya untuk masyarakat Indonesia

EBTKE-- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) akan memberikan 100.000 unit panel surya (solar home system/SHS) kepada 400.000 rumah tangga di daerah yang belum teraliri listrik.
Direktur Jenderal EBTKE Rida Mulyana mengatakan pembagian tersebut direncanakan menggunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai tahun ini dan kemudian dilanjutkan tahun depan.
"Tahun ini kita akan memulai nya dan dilanjutkan tahun depan mudah- mudahan nantinya bisa seluruh desa karena masih 2500 desa yang belum terlistriki,"kata dia saat membuka Acara Sosialisasi Program Pengampunan Pajak (tax amnesti) Wajib Pajak Pada Subsektor EBTKE di Jakarta, Rabu, 18 Januari 2017.
Rida menjelaskan, nantinya panel surya itu akan dialiri listrik ke empat unit lampu LED dengan kapasitas masing - masing 3 watt kemudian disediakan colokan USB agar bisa digunakan mengisi baterai hp, mendengarkan radi. "Tugas kita untuk membagikan kebahagian,"tegasnya.
Lebih jauh Rida memaparkan capaian kerja yang diperoleh unit yang dipimpinnya selama kurun waktu 2016, antara lain untuk panas bumi mencapai kapasitas tambahan 205 megawatt (MW), angka ini tertinggi sejak berdirinya Ditjen EBTKE. "Lalu prosentas pencampuran biodiesel/BBN 20 persen, ini tertinggi di dunia,"tambahnya.
Capaian lain, lanjut Rida, pemanfaatan biodiesel dalam negeri mencapai 2,74 kiloliter (KL), adapun realiasi pemanfaatan APBN-P 2016 juga mencapai angka tertinggi yaitu 95,75 persen. "Sedangkan untuk intensitas energi terus mengalami tren penurunan selama 3 tahun terakhir, yaitu hanya 440 SBM/miliar rupiah. Ini bagus artinya kita semakin hemat,"ungkapnya.
Disamping itu, menurut dia, pihaknya juga berhasil menerbitkan 8 regulasi selama kurun waktu 2016 dengan rincian 1 peraturan pemerintah dan 7 peraturan menteri (Permen) ESDM, pembangunan pembangkit listrik dari APBN lebih dari 16.729 kilowatt (kW) dengan berbasis energi baru terbarukan antara lain 102 unit PLTS sebesar 6.615 kW, 17 unit PLTMH dengan kapasitas 1.114, 5 unit PLT Bioenergi sebesar 9000 kw. "Terakhir realiasasi PNBP dari sektor panas bumi juga mencapai angka tertinggi yaitu US$0,907 triliun,"pungkas Rida.

Kamis, 17 Oktober 2013

PLN BELI 10 MEGAWATT LISTRIK UNTUK PAPUA

Jakarta 27/9 (Jubi) – Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pusat bakal menggunakan energi terbarukan untuk menerangi beberapa kabupaten di Bumi Cenderawasih, Papua dengan membeli 10 megawatt, dari salah satu perusahaan kayu yang ada di Sorong, Papua.

Hubungan Masyarakat (Humas) Public Relation Officer Corporate Communication PLN Pusat, Dermawan Amir Uloli menuturkan, energy baru itu akan bersumber dari kayu, batu bara, air dan sagu. Beberapa kabupaten akan menjadi percontohan energy terbarukan itu, diantaranya Kabupaten Biak Numfor, Timika,  Sorong, Wamena, Pegunungan Bintang, Merauke dan Nabire.

“Kita akan beli ekses power, atau kelebihan energy dari salah satu perusahaan kayu yang ada di Sorong. Kapasitasnya lumayan sekitar 10 megawatt. PT Perhutani itu mereka akan membangun pabrik sagu di Sorong. Disisi lain, dia membutuhkan pembangkit listrik, nah disitu PLN bangunnya disitu. Nabire itu juga ada potensi batu bara yang besar. Ada beberapa rencana di lokasi  bangun pembangkit listrik  bio massa di Biak, terus di Merauke juga ada,” kata Dermawan kepada tabloidjubi.com, Jumat (27/9).

PLN membenarkan sebagian energy terbarukan itu sudah berfungsi di beberapa kabupaten, misalnya saja di daerah Walesi, Kabupaten Wamena, lanjut Wawan sapaan akrabnya. Dalam setahun, PLN dapat menghemat pembelian BBM hingga Rp 80 miliar. dalam waktu dekat. “PLN juga akan melakukan kontrak kerjasama dengan pihak ketiga untuk kelancaran energy terbarukan tersebut,” kata dia.

Saat ini terdapat tujuh sistem kelistrikan di Provinsi Papua, yakni Jayapura, Wamena, Timika, Merauke, Nabire, Serui dan Biak. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang akan datang, kebijakan PLN yang tertuang dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2011-2020 adalah dengan membangun pembangkit skala kecil hingga menengah dengan kapasitas total 365 MW dengan memanfaatkan energy terbarukan. (Jubi/Indrayadi)

Senin, 01 Juli 2013

401 desa di Jawa-Bali Belum Dapat Listrik, Ini Alasan Bos PLN

Jakarta - Sebanyak 10.211 desa di Indonesia saat ini masih gelap gulita saat malam hari, karena listrik dari PLN belum mencakup ke desa-desa tersebut.Apa alasan PLN?

"Karena infrastrukturnya belum ada, terutama jalan, kalau ada jalan, minimal jalan besar, maka desa-desa yang belum teraliri listrik bisa dimasuki PLN," ujar Direktur Utama PLN Nur Pamudji ketika ditemui di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Kamis (13/6/2013).

Dikatakan Nur, tidak adanya jalan besar di desa-desa tersebut, membuat PLN kesulitan untuk membangun tiang-tiang listrik. "Kalau ada jalan besar kan tiang-tiang listriknya bisa dipasang dipinggir jalan, kan tidak mungkin tiang litrik PLN harus terobos kebun orang, sawahnya orang, secara standar dan aturan juga tidak diperbolehkan," ucap Nur.

Nur menegaskan, dirinya sudah memberi perintah kepada jajaran PLN jika ada permintaan pemasangan sambungan listrik, maka langsung segera dilakukan pemasangan.

"Saya sudah perintahkan jika ada permintaan sambungan listrik terutama calon pelanggan rumah tangga maka segera dilakukan pemasangan sambungan, tapi kalau industri kita cek dulu karena harus berdasarkan kapasitas dan harga tarif yang berbeda-beda," tandasnya.

Di Indonesia saat ini masih ada 10.211 desa yang gelap gulita saat malam hari, desa-desa tersebut sampai hari ini belum mendapatkan pasokan listrik dari PLN. Jumlah itu kurang lebih 13% dari total seluruh desa di Indonesia yang mencapai 72.944 desa/kelurahan hingga akhir 2012.

"Masih ada 10.211 desa yang sampai saat ini belum teraliri listrik," kata Direktur Operasi Jawa-Bali PLN Ngurah Adyana beberapa waktu lalu.

Dari 10.211 desa yang belum dialiri listrik tersebut, sebanyak 401 desa berada di Jawa-Bali. (FD)

20% Rumah di Jawa dan Bali Belum Teraliri Listrik

Jakarta - PT PLN (Persero) mengklaim hingga saat ini telah mengaliri listrik ke hampir 80% dari total rumah di Pulau Jawa dan Bali. PLN masih menyisakan 20%, namun masih terkendala infrastruktur.

Direktur Pengadaan Strategis dan Energi Primer PT PLN Bagyo Riawan mengatakan PLN siap dan mampu untuk mengaliri listrik ke semua daerah di Indonesia, namun persoalannya adalah jalan akses dan lokasi rumah yang sulit untuk mendistribusikan listrik.

"Pengembangan kelistrikan sangat tergantung infrastruktur yang lain. Infrastruktur jalan, bukan karena PLN-nya. Yang jalannya nggak ada, kalau jalannya nggak ada ngangkut materialnya susah," kata Bagyo kepadadetikFinance, Senin (1/7/2013).

Bagyo mengatakan, perseroan terus berusaha untuk melayani semua lapisan agar teraliri listrik. Hingga saat ini, PLN baru mengaliri listrik ke hampir 80% total rumah di Jawa dan Bali. "20% lagi lah, kira-kira baru 78%," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Susanto Purnomo, menurutnya PLN tidak mengalami permasalahan di hulu atau produksi listrik, namun kendala justru terjadi di hilir khususnya upaya distribusi listrik ke daerah-daerah terpencil. Perseroan menargetkan akan mengaliri listrik 100% seluruh Indonesia pada bertepatan dengan ulang tahun PLN yang ke-75 atau tahun 2021.

"Kita targetkan 100% itu ulang tahun PLN yang ke-75. Hitung saja dari tahun 1946," katanya. (DF)

Sabtu, 15 Juni 2013

PLTS Terbesar Eropa ada di Italia

MILAN, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) paling kuat di Eropa ditetapkan mulai beroperasi di Italia akhir tahun ini. Adalah perusahaan AS yang membangun instalasi di sebuah area seluas 120 lapangan sepak bola mengatakan, Kamis (11/3/2010). 
    
Pembangkit listrik di Rovigo di dekat Venice di timur laut Italia akan mengambil 850.000 meter persegi (9,15 juta kaki persegi) dan menghasilkan 72 megawatt, SunEdison mengatakan dalam sebuah pernyataan pengumuman memulai konstruksi. 
    
Saat ini pembangkit listrik terbesar di Eropa, berlokasi di Spanyol menghasilkan 60 megawatt dan terbesar kedua di Jerman 50 megawatt, kata SunEdison. 
    
"Taman fotovoltaik di Provinsi Rovigo merupakan tonggak penting dalam pembangunan dan pembentukan energi matahari di Italia," manajer umum SunEdison Italia, Francesco Liborio Nanni, mengatakan dalam sebuah pernyataan. 
    
Total investasi akan berada di antara 200 juta  hingga 250 juta euro (273 juta hingga 342 juta dollar AS), kata perusahaan itu. 
    
Produksi energi akan dimulai pada paruh kedua 2010 dan pembangkit listrik akan sepenuhnya beroperasi pada akhir tahun, kata SunEdison, yang bekerja pada proyek dalam hubungannya dengan raksasa perbankan Spanyol Santander. 
    
Selama tahun pertama operasi, pembangkit listrik akan menutupi kebutuhan listrik dari 17.000 rumah tangga dan akan mencegah emisi 41.000 ton karbon dioksida ke atmosfer. 
    
SunEdison, sebuah anak perusahaan dari perusahaan AS MEMC Electronic Materials, adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga surya terkemuka di Amerika Serikat dan terbesar ketiga di dunia. 
    
Italia berada di urutan kedua setelah Jerman untuk produksi listrik tenaga surya di Eropa. (KM)

Jumat, 14 Juni 2013

PLTS 2013 Butuh Investasi Rp18,5 Triliun

neraca.co.id - Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Alihuddin Sitompul mengatakan bahwa untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 638 megawatt (MW) maka diperlukan dana sekitar US$1,8 miliar atau mencapai Rp18,5 triliun.
Menurut ALihuddin, saat ini pemerintah yaitu Kementerian ESDM bersama dengan PT PLN (Persero) telah membuat rencana sampai dengan 2025. “Sumber pendanaan yang bisa dimanfaatkan yaitu melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di PLN, sampai dengan 2020 telah menargetkan bisa mengoperasikan pembangkit listrik surya hingga 590 MW, sementara dari KESDM dana dari APBN pada tahun ini ditargetkan bisa mengoperasikan hingga 4.420 kilowattpeak (kWp)," papar Alihuddin seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM, Selasa (14/5).
Dia mengakui mengembangkan energi surya di Indonesia bukan perkara mudah. Terdapat banyak kendala yang dihadapi diantaranya, tingginya investasi PLTS jika dibandingkan pembangunan pembangkit berbahan bakar fosil dan kurangnya investor swasta untuk menanamkan uangnya ke proyek PLTS.
Selain itu, dalam pengembangannya diperlukan insentif untuk pengembangan energi ini, relatif rendahnya efisiensi dalam sistem. Di samping itu, teknologi surya belum diimplementasikan dalam skala industri, dibutuhkan spesifikasi variasi yang standar dalam pasar, kendala terakhir kurangnya pemahaman dan edukasi untuk pemanfaatan energi surya.
PLTS adalah suatu pembangkit listrik yang menggunakan sinar matahari melalui sel surya untuk mengkonversikan radiasi sinar foton matahari menjadi energi listrik. Pemanfaatan energi matahari untuk pembangkit listrik dapat dilakukan dengan cara PLTS tersebar bagi pemukiman yang berjauhan, dan PLTS Terpusat bagi pemukiman yang mengumpul saling berdekatan, serta PLTS yang dapat diinterkoneksikan dengan jaringan yang sudah ada atau dipadukan (hybrid system) dengan pembangkit lainnya.
Sementara itu, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan melelang proyek PLT dengan kapasitas 150 MW dengan nilai Rp19 triliun. Nantinya lelang akan mengacu pada Peraturan Menteri ESDM tentang harga jual listrik (feed-in tariff) PLTS yang dijadwalkan terbit pekan depan. "Setelah permen terbit, maka sudah bisa dimulai tendernya," katanya.
Menurut dia, proses tender yang langsung dilakukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM itu, kemungkinan memakan waktu sekitar dua bulan. Usai lelang akan dilakukan proses pembangunan yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama yakni sekitar tiga bulan. "Bangun PLTS bisa cepat, karena tinggal pasang. Jadi, tahun ini sudah terpasang PLTS berkapasitas 150 MW yang tersebar di seluruh Indonesia," katanya.
Ia juga mengaku optimis target pembangunan PLTS 150 MW bakal tercapai karena investor lokal dan dari sejumlah negara seperti AS, Jepang, dan Afrika Selatan sudah menunggu pelaksanaan lelang yang mengacu permen "feed-in tariff" tersebut.
Selain membangun PLTS, peserta lelang juga akan menyediakan lahan dan jaringan hingga ke sistem PT PLN (Persero) terdekat. Permen ESDM"feed-in tariff" PLTS menyebutkan harga jual listrik maksimal sebesar 25 sen dolar AS per kWh.
Draf permen sudah dalam tahap sinkronisasi aturan di Biro Hukum Kementerian ESDM dan tinggal menunggu ditandatangani Menteri ESDM. Harga jual listrik maksimal PLTS sebesar 25 sen dolar per kWh tersebut berlaku di seluruh Indonesia.
Melalui proses lelang, akan terbentuk harganya di masing-masing wilayah. Harga jual listrik tenaga surya yang ditetapkan melalui lelang tersebut bersifat final dan akan langsung menjadi acuan kontrak dengan PLN, sehingga disebut mekanisme "feed-in tariff".
Penerbitan permen "feed-in tarif" tersebut merupakan terobosan agar semakin banyak investor mengembangkan tenaga surya yang tercatat memiliki potensi besar di Indonesia. Selama ini, pengembangan tenaga surya terkendala investasi tinggi, namun harga jual ke PLN yang masih rendah. Di sisi lain, PLN juga tidak berani membeli listrik dengan harga mahal, karena akan menambah beban subsidi.
Pemakaian listrik tenaga surya efektif digunakan pada wilayah-wilayah terpencil dan jauh dari jaringan kelistrikan, sehingga akan meningkatkan rasio elektrifikasi. Pada akhir 2012, rasio elektrifikasi atau penduduk yang memperoleh aliran listrik baru mencapai 75,9% dan ditargetkan meningkat menjadi 79,3% di 2013. (nn)

Selasa, 04 Juni 2013

Solar Industry Anxious Over Defective Panels

By TODD WOODY



LOS ANGELES — The solar panels covering a vast warehouse roof in the sun-soaked Inland Empire region east of Los Angeles were only two years into their expected 25-year life span when they began to fail.
Coatings that protect the panels disintegrated while other defects caused two fires that took the system offline for two years, costing hundreds of thousands of dollars in lost revenues.
It was not an isolated incident. Worldwide, testing labs, developers, financiers and insurers are reporting similar problems and say the $77 billion solar industry is facing a quality crisis just as solar panels are on the verge of widespread adoption.
No one is sure how pervasive the problem is. There are no industrywide figures about defective solar panels. And when defects are discovered, confidentiality agreements often keep the manufacturer’s identity secret, making accountability in the industry all the more difficult.
But at stake are billions of dollars that have financed solar installations, from desert power plants to suburban rooftops, on the premise that solar panels will more than pay for themselves over a quarter century.
The quality concerns have emerged just after a surge in solar construction. In the United States, the Solar Energy Industries Association said that solar panel generating capacity explodedfrom 83 megawatts in 2003 to 7,266 megawatts in 2012, enough to power more than 1.2 million homes. Nearly half that capacity was installed in 2012 alone, meaning any significant problems may not become apparent for years.
“We need to face up to the fact that corners are being cut,” said Conrad Burke, general manager for DuPont’s billion-dollar photovoltaic division, which supplies materials to solar manufacturers.
The solar developer Dissigno has had significant solar panel failures at several of its projects, according to Dave Williams, chief executive of the San Francisco-based company.
“I don’t want to be alarmist, but I think quality poses a long-term threat,” he said. “The quality across the board is harder to put your finger on now as materials in modules are changing every day and manufacturers are reluctant to share that information.”
Most of the concerns over quality center on China, home to the majority of the world’s solar panel manufacturing capacity.
After incurring billions of dollars in debt to accelerate production that has sent solar panel prices plunging since 2009, Chinese solar companies are under extreme pressure to cut costs.
Chinese banks in March, for instance, forced Suntech into bankruptcy. Until 2012, the company had been the world’s biggest solar manufacturer.
Executives at companies that inspect Chinese factories on behalf of developers and financiers said that over the last 18 months they have found that even the most reputable companies are substituting cheaper, untested materials. Other brand-name manufacturers, they said, have shut down production lines and subcontracted the assembly of modules to smaller makers.
“We have inspectors in a lot of factories, and it’s not rare to see some big brands being produced in those smaller workshops where they have no control over quality,” said Thibaut Lemoine, general manager of STS Certified, a French-owned testing service. When STS evaluated 215,000 photovoltaic modules at its Shanghai laboratory in 2011 and 2012, it found the defect rate had jumped from 7.8 percent to 13 percent.
In one case, an entire batch of modules from one brand-name manufacturer listed on the New York Stock Exchange proved defective, Mr. Lemoine said. He declined to identify the manufacturer, citing confidentiality agreements.
“Based on our testing, some manufacturers are absolutely swapping in cheap Chinese materials to save money,” Jenya Meydbray, chief executive of PV Evolution Labs, a Berkeley, Calif., testing service.
SolarBuyer, a company based in Marlborough, Mass., discovered defect rates of 5.5 percent to 22 percent during audits of 50 Chinese factories over the last 18 months, said Ian Gregory, the company’s senior marketing director.
Some Chinese manufacturers acknowledge that quality has become a problem
“There are a lot of shortcuts being taken, and unfortunately it’s by some of the more reputable companies and there’s also been lot of new companies starting up in recent years without the same standards we’ve had at Suntech,” said Stuart Wenham, the chief technology officer of Suntech, which is based in Jiangsu Province in eastern China.
When asked about quality standards, Trina Solar, one of the largest Chinese manufacturers, said in an e-mailed response, “For Trina, quality will not be compromised in our cost-reduction efforts.”
The heart of a solar panel is a photovoltaic cell that generates electricity when struck by sunlight. Among the most critical components are a thin film that protects the cell from moisture, and the encapsulant that seals the cell between layers of glass.
Mr. Gregory said repeat inspections of factories found some manufacturers had been constantly switching to cheaper materials, including some whose use-by date had expired.
“If the materials aren’t good or haven’t been thoroughly tested, they won’t stick together and the solar module will eventually fall apart in the field,” he said.
That’s what happened in 2011 at a year-old Australian solar plant, Mr. Meydbray of PV Evolution said. Testing confirmed that substandard materials were causing the Chinese-made modules’ protective coating to degrade, he said. The power plant operator declined to be identified.
“I think quality is increasingly a concern, but it’s not a major issue yet,” said Rhone Resch, chief executive of the Solar Energy Industries Association, a trade group. “As companies race to cut their costs, some who are on the edge may take short cuts.”
The Energy Department’s National Renewable Energy Laboratory has studied the performance of solar panels up to 2010, according to Sarah Kurtz, a scientist who manages the laboratory’s photovoltaic reliability group.
“The question is whether things are deteriorating rapidly or whether it’s a few isolated companies not doing so well on their quality control,” she said. “I hear a lot of angst, but I haven’t seen a lot of solid information.”
All solar panels degrade and gradually generate less electricity over time. But a review of 30,000 installations in Europe by the German solar monitoring firm Meteocontrol found 80 percent were underperforming. Testing of six manufacturers’ solar panels at two Spanish power plants by Enertis Solar in 2010 found defect rates as high as 34.5 percent.
Enfinity operates solar installations in Europe and the United States. Bob Hopper, Enfinity’s chief development officer, said his company had stopped buying Chinese modules because of quality concerns. “Even a small amount of unforecasted degradation in electricity production can have significant economic impact on us,” he said.
In the Netherlands, RenĂ© Moerman, chief strategy officer of Solar Insurance and Finance, said claims had risen 15 percent recently. He said an inspection of a solar plant in Britain in March revealed that 12 percent of the newly installed Chinese-made modules had failed. He said confidentiality agreements prevented him from naming the manufacturer.
Other solar developers and installers said they had not experienced quality problems.
“The systems we installed in 2012 had the best performing year yet,” said Lyndon Rive, chief executive of SolarCity, the largest residential solar installer in the United States and a buyer of panels from China’s Yingli Solar and Trina.
Non-Chinese manufacturers have had quality problems as well. The defective panels installed on the Los Angeles area warehouse, for instance, were made by an American manufacturer. A reporter was granted access to the project on the condition that the parties’ identities not be disclosed because of a confidential legal settlement.
First Solar, one of the United States’ biggest manufacturers, has set aside $271.2 million to cover the costs of replacing defective modules it made in 2008 and 2009.
Nor are all solar developers shunning Chinese manufacturers. The United States subsidiary of Yingli, the world’s largest solar panel maker since 2012, won a contract last year to supply solar panels for a California power plant.
“The one thing I can tell you is that Yingli does not cut corners,” said Brian Grenko, vice president for operations at Yingli Americas, adding that only 15 defective modules had been returned to the company out of 2.8 million shipped to the United States since 2009.
Still, Yingli executives acknowledge that quality has become a competitive issue.
The company now offers a comprehensive insurance policy to customers and has established its own testing laboratory in the San Francisco area.
Mr. Wenham, the Suntech executive, said manufacturers needed to be held accountable and advocated creating testing labs not beholden to the industry that would assess quality.
“We need to start naming names,” he said.

(This article is copied directly from the new york times on 06.04.2013)

Kamis, 14 Maret 2013

Graphene Sebagai Pengganti Silicon Untuk Panel Surya


Para peneliti telah menunjukkan bahwa graphene sangat efisien dalam menghasilkan elektron untuk menyerap cahaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan ini dapat digunakan untuk membuat sel surya yang lebih efisien.

Bahan konvensional yang mengubah cahaya menjadi listrik, seperti arsenide silikon dan galium, menghasilkan elektron tunggal untuk menyerap setiap foton. Sekarang, penelitian baru mengungkapkan bahwa ketika graphene menyerap foton, bahan ini akan dapat menghasilkan beberapa elektron. Ini berarti bahwa graphene dapat mengkonversi cahaya menjadi listrik lebih efisien daripada bahan konvensional yang digunakan saat ini.

Graphene sebagai alternatif sel surya
Penelitian yang dilakukan para ahli telah menunjukkan bahwa graphene memiliki potensi yang luar biasa. Peneliti di Hitachi Cambridge Laboratory, menunjukkan bahwa beberapa waktu kedepan, penggunaan Graphene akan melingkupi banyak produk-produk yang dapat menghasilkan energi alternatif.

Graphene bisa dianggap sebagai kandidat untuk digunakan pada generasi ketiga sel surya. Istilah generasi ketiga ini mengacu pada pengembangan teknologi yang akan mengatasi batasan-batasan fisik sel surya konvensional, sehingga mampu mencapai efisiensi yang jauh lebih tinggi. Sel silikon saat ini memiliki batasan efisiensi sekitar 30 persen, namun sel surya terbuat dari graphene mungkin memiliki batasan lebih dari 60 persen.


Selasa, 12 Maret 2013

Efek fotovoltaik: Edmond Becquerel

Lahir di Paris, Edmond Becquerel (1820-1891), seorang ahli fisika Perancis pada tahun 1839, dikenal karena studinya dalam magnet listrik, spektrum matahari, dan optik. 

Ia terkenal untuk penemuan dan mengungkap prinsip kunci untuk sel energi surya, efek fotovoltaik. Ia menerima gelar doktor dari Universitas Paris, dan akhirnya menerima posisi profesor di Institut agronomi dari Versailles. 

Dia tertarik pada pendar dan luminescence, khususnya reaksi kimia yang disebabkan oleh eksploitasi zat tertentu terhadap cahaya. Pada Tahun 1840an ia menemukan bahwa reaksi ini bisa menghasilkan arus listrik di kedua cairan dan logam. Hubungan antara energi cahaya dan energi kimia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan di tahun-tahun berikutnya dan penelitian telah menyebabkan perkembangan sel fotovoltaik. 

Efek fotovoltaik adalah proses fisik dasar dimana sel fotovoltaik mengubah sinar matahari menjadi listrik. Sinar matahari terdiri dari foton yang terdapat dalam energi surya. Foton ini mengandung jumlah energi yang berbeda, sesuai dengan panjang gelombang dari spektrum matahari. 

Ketika foton tertangkap oleh luasan panel surya, maka foton yang mengenai sel fotovoltaik dapat diserap, sedangkan yang tidak, hanya menembus luasan panel surya. Foton yang diserap itulah yang dapat menghasilkan listrik. (David)

Senin, 11 Maret 2013

Marine Solar Cells


Intisari-Ada dua kelemahan yang bisa kita temui pada sebagian besar sistem energi surya di pasaran saat: perlu lahan luas serta biaya pembuatan dan pemeliharaan yang tinggi. Untuk mengatasi hal itu, saat ini sedang dikembangkan sebuah pembangkit listrik tenaga surya yang mengambang. Panel tidak diletakkan di daratan tapi mengambang di air.

Tak bisa dipungkiri bahwa energi surya memiliki peran yang dominan dalam membendung efek gas rumah kaca. Energi ini dianggap bersih dan merupakan sumber listrik yang efisien. Pengembangan yang ada saat ini bertujuan untuk mengatasi dua kendalai tadi.

Seperti dikutip sciencedaily.com, kerja sama antara Prancis dan Israel ini sudah pada tahap rancang bangun. Diharapkan September 2011 sudah bisa diimplementasikan di lapangan. Sebagai lokasi akan dipilih di Cadarache, tenggara Prancis. Tempat ini memiliki tempat istimewa dalam sistem perlistrikan Prancis dan dekat dengan fasilitas PLTA yang menyediakan permukaan air untuk pemasanan sistem. Direncanakan akan beroperasi selama sembilan bulan untuk menguji kinerja sistem dan produktivitasnya pada perubahan musim dan tingkat kedalaman air. Juni 2012 diharapkan sudah terkumpul semua informasi yang diperlukan teknologi ini untuk dilepas ke pasaran.

Jika perusahaan fotovoltaik berjuang mencari lahan untuk menaruh pabrik listrik sel suryanya, tim proyek mengidentifikasi potensi tak tersentuh untuk pemasangan instalasi sel surya di air. Cekungan air yang digunakan tentu saja bukan bagian dari taman nasional, resort wisata, atau lautan terbuka. Justru cekungan air industri yang dipilih, yang sudah digunakan untuk tujuan lain. Jadi, tidak ada pengaruh negatif pada lahan alam. Sebuah solusi yang sama-sama menguntungkan.

Setelah menyelesaikan persoalan mengenai tempat, masalah lain adalah biaya. Memang, biaya yang dipakai terdengar 'wow', namun untuk jangka panjang hal itu masuk akal. Pengembang dapat mengurangi ongkos berkaitan dengan implementasi teknologi dalam dua hal. Pertama mengurangi jumlah sel surya yang digunakan. Ini berkat teknologi sel surya terbaru yang berbasiskan cermin. Meski sel berkurang, namun listrik yang dihasilkan tetap.

Kedua, digunakannya sistem pendinginan air karena panel terendam air. Karena sistem pendinginan yang sederhana ini sehingga sistem fotovoltaik bisa menggunakan sel surya silikon, yang memiliki masalah soal overheating dan perlu didinginkan agar sistem bekerja dengan benar. Ini berbeda dengan sistem standar yang lebih mahal. Jenis silikon juga memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis standar.

Masih dalam rangka membuat teknologi ini efisien dan siap dilempar ke pasar, sistem dirancang menggunakan sistem modul mengikuti keinginan pengguna. Setiap modul menghasilkan sekitar 200 kW listrik. Jika ingin tambah tinggal memasang modul tambahan.

Masalah lingkungan juga diperhatikan. Kenyataan bahwa oksigen akan diserap oleh sistem sehingga masuk ke dalam air akan menjaga kecukupan oksigen bagi kehidupan bawah air. Pemilihan material pun mengacu ke seberapa besar dampaknya ke lingkungan bawah air. (Agus)